Dua Pekan Dua Gelar untuk PPI Kota Den Haag

Dalam dua pekan terakhir, perwakilan PPI Kota Den Haag, yang mayoritas diisi oleh mahasiswa baru di International Institute of Social Studies (ISS) berhasil membawa dua gelar juara dari dua kompetisi berbeda. Hal ini membuat mereka yang kurang lebih baru berada sebulan di Belanda merasa bangga — di luar masalah gelar — karena dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang melibatkan mahasiswa, pelajar, dan komunitas Indonesia lain di Belanda.

Gelar pertama diboyong dari satu kategori lomba di acara Klikustik yang diadakan oleh PPI Den Haag dan PPI Belanda di Rijswik pada tanggal 4 Oktober 2014. Acara ini memperlombakan karya videografi, fotografi, kuliner, dan akustik. Kecuali videografi, PPI Kota Den Haag mengirimkan perwakilannya dalam semua kategori lomba.

Di kategori lomba foto, PPI Kota Den Haag belum mendapat kesempatan untuk menjadi pemenang. Dalam kompetisi akustik, PPI Kota Den Haag yang mengirimkan tim bernama “Kapsalon Tiga Euro” juga belum meraih nilai yang cukup tinggi untuk mengalahkan tim lain walaupun mendapat aplaus dan sorak-sorai yang meriah dari penonton.

1964821_10152791535838024_6859692281424041686_n

Tim “Kapsalon 3 Euro” – Foto: Grace

10641070_10204553915718521_7420588747943437669_n 1897772_10204553913718471_8823253607825925655_n 10604696_10204553908518341_2914674491697613300_o
Peserta Lomba Masak PPI Kota Den Haag – Foto: Grace Continue reading

Regenerasi Kepengurusan PPI Kota Den Haag

Selasa, 9 September 2014, selepas melakukan kegiatan pelaporan diri di Kedutaan Besar Republik Indonesia, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kota Den Haag, Belanda, melakukan proses regenerasi kepengurusan. Mahasiswa baru yang berjumlah 43 orang melakukan pemilihan Ketua dan Presidium mereka. Dalam lingkup kota, Ketua berperan sebagai koordinator aktivitas pelajar yang tergabung di dalamnya, sementara Presidium bertugas mewakili suara kota dalam aktivitas-aktivitas lingkup PPI Belanda.

Proses diawali dengan memunculkan nama bakal calon, yaitu setiap mahasiswa menuliskan nama bakal calon yang diajukan dalam selembar kertas. Dari semua kertas yang terkumpul, dipilih empat nama dengan suara terbanyak. Hasilnya, nama-nama berikut muncul: Heru Saputra, Uthar Mukthadir, Sangaji Utomo dan Hendri.

Ki-Ka: Uthar Mukthadir, Heru Saputra, Sangaji Utomo, Hendri

Ki-Ka: Uthar Mukthadir, Heru Saputra, Sangaji Utomo, Hendri

Dengan empat nama ini, dilakukan sekali lagi pemungutan suara untuk menentukan Ketua dan Presidium dari hasil dua suara terbanyak. Akhirnya, terpilih Heru Saputra sebagai Ketua PPI Kota Den Haag dengan suara terbanyak, dan Uthar Mukthadir sebagai Presidium PPI Kota Den Haag. Keduanya akan bertugas selama September 2014 – September 2015, menggantikan kepengurusan 2013 – 2014 di bawah koordinasi Ketua Bagus Kurniawan dan Presidium Muhammad Hudzaifah.

Ketua PPI Kota Den Haag 2014 - 2015: Heru Saputra (kana) Presidium PPI Kota Den Haag 2014 - 2015: Uthar Mukthadir (kiri)

Ketua PPI Kota Den Haag 2014 – 2015: Heru Saputra (kanan)
Presidium PPI Kota Den Haag 2014 – 2015: Uthar Mukthadir (kiri)

Berikut ini adalah komposisi lengkap kepengurusan PPI Kota Den Haag 2014 – 2015.

Penasehat: Martua T. Sirait, Bayu Wijayanto, Anggun Susilo, Maksimus Regus, Tamara Soukotta, Bagus Kurniawan, Octal Pramudito, Rika Nurmala Putri, Dhani Astuti

Ketua : Heru Saputra (Heru)

Presidium : Uthar Mukthadir (Uthar)

Sekretaris : Astika Roviana (Asti)

Bendahara : Ririh Kusuma Permatasari (Ririh)

Seksi Humas dan Publikasi

Koordinator: Zulfadhli Nasution (Zul)

Anggota: Raymond Tirtoadi (Raymond); Riezki Yulviani Armalita (Yulvie); Amalia Puri Handayani (Amalia), Prahastuti Maharani (Tutus)

Seksi Acara, Seni dan Budaya

Koordinator : Sangaji Utomo (Aji)

Anggota : Aldila Tjahjasari (Dila), Firdhan Aria Wijaya (Firdhan), Desy Maritha (Desy), Maria Indriani (Maria), Mehdinsahreza Wiriarsa (Reza), Ahmad Rohadi (Roi)

Seksi Dokumentasi dan Kreatif

Koordinator : Hendri

Anggota : Maharlika Ramdhani (Lika), Ika Hardina Lubis (Dina), Murwendah (Wendah), Grace Dearni Sipayung (Grace)

Seksi Perlengkapan

Koordinator: Buyung Yusuf WIbisono (Buyung)

Anggota : Stenly, Zunansyah Falanni (Dani), Riko Naldi (Riko), Ammi Ardiyanti (Ammi), Raden Pratama (Tommi)

Jumpa Duta Besar dan Lapor Diri Mahasiswa Baru ISS

Selasa 9 September 2014, mahasiswa baru asal Indonesia di International Institute of Social Studies (ISS) Den Haag melakukan pelaporan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Belanda yang juga berlokasi di Kota Den Haag. Acara ini difasilitasi oleh Pengurus PPI Kota Den Haag 2013 – 2014 bekerja sama dengan pihak kedutaan. Tercatat ada empat puluh tiga mahasiswa baru yang akan melakukan studi selama satu atau dua tahun ke depan di ISS Den Haag, tersebar ke berbagai jurusan yaitu Agrarian, Food and Environmental Studies (AFES); Economic of Development (ECD); Governance, Policy and Political Economy (GPPE); dan Social Policy for Development (SPD).

Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Ibu Duta Besar H. E. Retno LP Marsudi didampingi dengan Atase  Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Bambang Hari Wibisono membuka kegiatan. Dalam pengantarnya, Ibu Duta Besar memperkenalkan beberapa Atase dan stafnya yang turut hadir sore itu, termasuk berbagai pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda sehari-hari. Kedutaan menyatakan membuka diri, selebar-lebarnya, jika para mahasiswa dan warga negara Indonesia di Belanda, membutuhkan bantuan atau penanganan kasus-kasus tertentu seperti pengurusan dokumen atau hal lainnya.

lapor diri

Selepas kata pengantar disampaikan oleh Ibu Retno, para mahasiswa baru yang hadir juga antusias melakukan tanya jawab. Pertanyaan yang muncul mulai dari yang sifatnya keseharian seperti tips-tips yang sebaiknya dilakukan untuk menghindari risiko kejahatan, hingga berita masuknya Ibu Duta Besar dalam kandidat Calon Menteri Luar Negeri, dan juga tips untuk mewajahkan Indonesia di mata warga negara lain, khususnya Belanda yang terkadang masih menarik kaitan historis masa lalu antara Indonesia dan Belanda.

Ibu Duta Besar berpesan bahwa hal yang penting adalah bagaimana para warga negara Indonesia, termasuk mahasiswa dapat mewajahkan Indonesia yang berbeda saat ini, walaupun tidak mesti selalu dengan sikap yang defensif dan mengaburkan sejarah. Yang perlu ditunjukkan adalah adanya peningkatan beberapa hal di sana-sini, “Banggalah menjadi anak Indonesia, jangan habiskan energi untuk mencubit diri sendiri… Tunjukkan kepada orang lain agar mereka bisa mencopot kacamata lamanya, dan mulai menggunakan kacamata barunya untuk melihat Indonesia.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan agenda yang juga selalu ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa yaitu ramah-tamah disertai dengan hidangan khas Indonesia. Setelah pengurusan berkas selesai, kegiatan lapor diri pun selesai, namun masih dilanjutkan dengan agenda pemilihan Ketua dan Presidium PPI Kota Den Haag yang baru (baca di link ini). [zn]

lapor diri

Ramadhan di Den Haag, Belanda

Buka Puasa Bersama

Belanda, – Bagi umat Muslim Indonesia di Belanda, datangnya bulan Ramadhan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Meskipun menunaikan ibadah puasa Ramadhan di negeri kincir angin ini tidaklah semudah berpuasa di tanah air, namun menjalaninya tidak pula sesulit yang dibayangkan. Serangkaian pertanyaan yang mungkin muncul di benak Saudara-saudara kami di tanah air adalah bagaimana nuansa bulan Ramadhan di Belanda? Apa hal yang menarik ditelusuri selama menjalankan ibadah puasa disana?

Berpuasa di Belanda punya beberapa hal menarik yang dapat dijadikan sebagai pengalaman berharga bagi yang menjalaninya. Hal menarik yang pertama terkait dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Memang berpuasa di negeri yang mayoritasnya non-Muslim tidaklah semeriah berpuasa di tanah air. Selama berpuasa di tanah air, kita selalu dimanjakan dengan melantunnya suara adzan pada setiap waktu shalat dan meriahnya menu ‘jajanan’ untuk berbuka kala sore hari. Di Belanda, kami berpuasa dengan kondisi jauh dari keluarga, tidak terdengar suara adzan, dan tidak adanya tempat ‘jajanan’ untuk berbuka.

Akan tetapi hal ini membawa hikmah tersendiri bagi kami. Kami begitu diuji oleh-Nya tentang arti pentingnya sebuah keluarga. Karena keluarga inti kami berada di tanah air nun jauh disana, maka keluarga inti kami disini adalah rekan-rekan sesama Muslim yang menjalankan ibadah puasa. Berhubung kami adalah mahasiswa yang sedang studi di Den Haag, maka keluarga inti kami saat ini adalah rekan-rekan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam organisasi perhimpunan pelajar PPI Kota Den Haag. Sebagai sebuah keluarga, Alhamdulillah kami rutin mengadakan acara buka puasa bersama sehingga hal ini cukup mengobati kerinduan kami akan berbuka bersama keluarga di Indonesia.

Lalu bagi yang ingin mencari suasana baru, dapat berbuka bersama Muslim mancanegara dari Turki, Maroko dan Afrika, di masjid-masjid sekitar. Hal ini akan menjadi pengalaman sangat berharga lainnya karena kita begitu disadari akan arti pentingnya ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar sesama Muslim), sebuah perasaan yang mungkin seringkali kita lupakan selama kita berada di tanah air mengingat banyaknya orang Muslim di Indonesia. Disini kita akan menyadari bahwa persaudaraan terhadap sesama Islam itu menembus batas-batas suku, bangsa, hingga negara.

Hikmah lainnya adalah membuat kami menyadari bahwa hidup sebagai seorang Muslim di Indonesia merupakan salah satu nikmat yang harus disyukuri. Betapa tidak, setiap masuk waktu shalat kita selalu dimanjakan dengan lantunan suara adzan yang membuat kami seharusnya segera bergegas pergi ke masjid-masjid terdekat. Sedangkan disini, untuk penanda waktu shalat kami hanya mengandalkan aplikasi azan dalam gadget kami masing-masing dan memerlukan pengorbanan yang ‘lebih’ jika ingin menunaikan ibadah shalat berjamaah di masjid. Beruntung, di kota Den Haag ini terdapat beberapa Masjid, seperti Masjid Turki, Masjid Maroko, dan Masjid Indonesia.

Selain itu, karena tidak adanya menu ‘jajanan’ untuk berbuka, membuat kami harus memasak sendiri untuk menu berbuka puasa atau ikut berbuka puasa bersama Muslim Indonesia lainnya atau berbuka bersama Muslim mancangara Akhirnya, hal ini menyadarkan kami bahwa hidup sebagai seorang Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa di Indonesia itu sangatlah mudah.

Hal menarik lainnya dari berpuasa di Belanda adalah terkait dengan lamanya waktu berpuasa. Waktu berpuasa di Eropa, khususnya Belanda jauh lebih lama dari waktu berpuasa di Indonesia. Di Belanda kami berpuasa selama 18 hingga 19 jam seharinya karena jadwal puasa jatuh pada musim panas. Ini berarti kami hanya punya waktu selama lima sampai enam jam dari waktu berbuka pada jam 10 malam hingga adzan subuh berkumandang pada jam 3 pagi.

Untuk menyiasati hal tersebut, kami perbanyak memakan buah yang berserat seperti apel, pisang dan jeruk dan minum susu setelah berbuka puasa. Sedangkan untuk menu sahur, kami perbanyak dengan mengkonsumsi protein seperti daging dan telur. Alasan mengapa kami perbanyak menu sahur ketimbang berbuka adalah menjaga ritme tubuh supaya tidak cepat mengantuk pada malam hari. Selain itu, kami juga harus mencukupi kebutuhan air putih, terutama ketika berbuka. Hal ini dikarenakan banyaknya cairan tubuh yang hilang selama berpuasa.

Selain itu, berhubung waktu malam yang singkat, maka kami mengubah pola tidur kami selama Ramadhan. Selama bulan puasa ini kami tidur satu jam setelah shubuh selama empat hingga enam jam. Akan tetapi, perihal waktu tidur ini tergantung dari aktivitas sehari-hari masyarakat Muslim disini. Berhubung kami adalah mahasiswa, maka tidur selama empat hingga enam jam setelah shubuh tidaklah mengganggu jadwal kuliah kami.

Begitulah cerita singkat kami selama menjankan ibadah puasa di Belanda. Selamat menunaikan ibadah puasa. Ramadhan Mubarak dari kota Den Haag, Belanda.

 

1795913_10203268312256415_240291260_oPenulis: Muhammad Hudzaifah Abdul Aziz

Penulis adalah mahasiswa Master in Development Studies di Institute of Social Studies (ISS) of Erasmus University Rotterdam (EUR) di Den Haag, Belanda

 

Sports in ISS!

Foto beberapa mahasiswa ISS (dari Afrika, Asia (Hongkong dan Indonesia), Brazil, dan Jerman) yang sering bermain futsal

Beberapa mahasiswa ISS (dari Afrika, Asia (Hongkong dan Indonesia), Brazil, dan Jerman) yang sering bermain futsal

 

Salah satu cara mahasiswa Indonesia dalam menjaga kesehatannya ketika sedang belajar di ISS adalah dengan berolah raga, namun berolah raga itu sendiri di ISS memiliki tantangan tersendiri. Tantangan tersebut berupa lokasi dimana fasilitas berolah raga berada. Untuk diketahui, tidak semua fasilitas olahraga di ISS menyatu atau dekat dengan kampus. Hanya fasilitas yoga, tenis meja, dan foosball. Fasilitas lainnya yang berada jauh dari kampus adalah sepakbola, futsal, bulutangkis, voli, dan Semua fasilitas tersebut, kecuali sepakbola, dapat digunakan mahasiswa dalam berbagai musim karena bersifat indoor.basket. Fasilitas futsal, bulutangkis, voli, dan basket berada dalam satu tempat yang terletak di Sporthal de Blinkerd, Seinpoststraat 150, 2586 HC Den Haag. Untuk mencapai ke sana dapat menggunakan Tram no 1 plus jalan kaki selama 18 menit dari halte Mauritskade. Namun, jarak tempuh ke tempat tersebut lebih pendek jika anda menggunakan sepeda, hanya 13 menit. Jika fasilitas yang dekat kampus bisa digunakan setiap saat, tidak sama halnya dengan yang berada di luar kampus. Olahraga di Blinkerd hanya dilakukan setiap hari Minggu mulai pukul 17.00 WB hingga pukul 21.00 WB. Karena luas lapangannya terbatas, olahraga basket, voli dan badminton dilakukan pada pukul 17.00-19.00 WB. Adapun olahraga futsal dilakukan pada pukul 19.00-21.00 WB.

Mahasiswa ISS dari Indonesia sebelum berlatih bulutangkis

Mahasiswa ISS dari Indonesia sebelum berlatih bulutangkis

Beberapa mahasiswa ISS (dari Afrika, Indonesia, Brazil, dan Jerman) yang sering bermain futsal

Beberapa mahasiswa ISS (dari Afrika, Indonesia, Brazil, dan Jerman) yang sering bermain futsal

Tidak semua mahasiswa ISS yang berasal dari hampir dari semua benua menggunakan fasilitas yang ada di blikerd. Hal tersebut berlaku pula dengan mahasiswa Indonesia karena hanya beberapa orang saya yang rutin menggunakan fasilitas olah raga termasuk berolah raga di Blinkerd. Hal ini bisa dimaklumi karena hobi dan alokasi waktu setiap orang berbeda-beda. Khusus untuk olahraga di Blinkerd, tantangan yang dihadapai mahasiswa adalah jarak tempuh dari dorm ke Blinkerd dan waktu olah raga yang mengambil waktu liburan atau istirahat. Akibatnya, jumlah mahasiswa yang sering berolah raga di sana sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah total mahasiswa ISS. Namun ada fakta yang unik, yaitu jika futsal, voli, dan basket umum disukai oleh mahasiswa dari berbagai negara maka tidak dengan badminton. Dari bulan September hingga tulisan ini disusun, mayoritas penikmat olahraga bulutangkis adalah orang Indonesia bahkan seringkali hanya orang Indonesia yang bermain.

 

WILLIPenulis: Willi Sutanto

Penulis adalah mahasiswa Master in Development Studies di Institute of Social Studies (ISS) of Erasmus University Rotterdam (EUR) di Den Haag, Belanda

 

PPI Kota Den Haag: Bike to Delft

Image

Pada hari itu, 23 Februari 2014, beberapa dari kami mencoba untuk bersepeda dari Den Haag ke Delft. Menurut http://www.wikitravel.org siy waktu tempuhnya hanya 20 menit sekali jalan (kurang tahu moda transportasi nya apa), tetapi nyatanya kami memakan waktu 2 jam sekali jalan. Maklum, kami hanyalah para pesepeda “nyantai” yang perlu beberapa kali berhenti untuk beristirahat, bahkan belum sampai setengah jam, kami sudah singgah di warung pizza turki untuk sekedar ber-sarapan (dan juga bungkus untuk bekal di perjalanan).
Kami pun kemudian beristirahat lagi di pinggir sungai yang kebetulan ada bangku tamannya. Makan, minum, dan meluruskan kaki bahkan beberapa kali berhenti di tiap tempat yang pemandangannya oke. Di Delft, kami berhenti di Centruum dan sekitarnya, seperti biasa, untuk istirahat sambil berfoto. Kemudian kami menghabiskan waktu (lumayan) lama di toko souvenir yang menurut “survey” siy termurah se-Belanda. Selanjutnya, kami makan siang dulu sebelum kembali ke Den Haag lagi.
Total waktu pergi kami dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore (4 jam pp). Dan perjalanan pulang pun terasa amat melelahkan, entah karena kami yang kurang berolahraga atau memang sepeda nya yang kurang bersahabat. Bagi sebagian dari kami, rasa lelah ini berkepanjangan dan baru hilang setelah satu minggu kemudian. Tapi, inilah pengalaman, yang akan menjadi sweet memory untuk diingat dan diceritakan kembali suatu saat nanti……..Cheers!!

 

Image

DSC_0364-2

DSC_0258-2

DSC_0246-2

DSC_0252-2

 

IMG_2050-2

Penulis: Rini Dwi Hastuty

Penulis adalah mahasiswa Master in Development Studies di Institute of Social Studies (ISS) of Erasmus University Rotterdam (EUR) di Den Haag, Belanda

ARIBA Edisi I. TREASURE HUNT: Berburu Kepingan Kisah Perantauan!

ARIBA

PPI Belanda bekerja sama dengan PPI Den Haag dan PPI Kota Den Haag dengan bangga mempersembahkan: ARIBA Edisi Satu. TREASURE HUNT: Berburu Kepingan Kisah Perantauan!

Arisan Bersama PPI Belanda, atau yang lebih dikenal dengan sebutan ARIBA adalah sebuah acara yang bertujuan untuk meningkatkan tali silaturrahim antar anggota PPI Belanda sekaligus mengenal lebih dekat kota-kota di Belanda kepada anggota PPI Belanda. Acara yang dilangsungkan pada hari ahad/23 Februari 2014 di Kota Den Haag ini adalah ARIBA pertama pada periode kepengurusan Sekjen PPI Belanda periode 2013/2014, Willy Sakareza. Antusiasme terhadap acara ini terbilang cukup memuaskan. Koordinator penyelenggara, Thomas Mandela pada penutupan acara menyampaikan bahwa, acara kali ini berhasil mendatangkan lebih dari 40 anggota PPI Belanda dari berbagai PPI Kota di Belanda.

Berhubung Den Haag sebagai tuan rumah, maka PPI Kota Den Haag dan PPI Den Haag berkolaborasi menjadi panitia sekaligus pemandu bagi rekan-rekan dari PPI kota lainnya. Dari pihak PPI Kota Den Haag sendiri mengirimkan lima orang wakilnya sebagai panitia. Adapun lokasi yang dituju untuk mengenal lebih dalam Kota Den Haag terdiri dari 11 tempat, yaitu Mauritshuis, Buitenhof, Grote Markt, Plein, Passage, Asian restaurants, Haagsche Bluf, China Town, Grote Kerk, dan Hotel Des Indes. Kesebelas tempat tersebut dikunjungi secara silih berganti oleh peserta ARIBA yang terbagi ke dalam empat grup.

IMG_8540-2

IMG_8541-2

IMG_8631-2

IMG_8554-2

IMG_8560-2

 

IMG_8561-2

IMG_8565-2

IMG_8566-2

IMG_8568-2

IMG_8574-2

IMG_8576-2

IMG_8577-2

IMG_8582-2

IMG_8584-2

IMG_8586-2

IMG_8588-2

IMG_8590-2

IMG_8591-2

IMG_8592-2

IMG_8598-2

IMG_8600-2

IMG_8603-2

IMG_8613-2

IMG_8616-2

IMG_8626-2

IMG_8552-2