Berbisnis di Negeri Kincir Angin

Tiga buah sepeda terparkir di halaman Dorus Rijkersplein saat mentari baru menampakkan wajahnya hari itu. Seorang mahasiswa ISS duduk di halaman gedung sambil mengutak-atik sepeda tua bewarna merah menyala. Setelah memompa kedua roda , mahasiswa tersebut kemudian memberikan cairan anti karat pada setiap siku, jari-jari dan pedal sepeda yang tampak termakan usia. Dengan sedikit polesan, sepeda tua itu kini siap di gowes di jalanan Kota Den Haag.

Dia adalah Amin Jadoel, begitu ia akrab disapa dikalangan mahasiswa ISS. Mahasiswa S2 Jurusan Governance and Policy Development tersebut sudah menggeluti dunia bisnis jual-beli sepeda sejak hari pertama masuk kuliah. Kejelian nya memanfaatkan peluang menjadi pundi-pundi uang muncul saat melihat tinggi nya permintaan sepeda dari mahasiswa baru di ISS, sementara penjual masih sulit ditemui.

Pelangganya berasal dari berbagai negara, bukan hanya  mahasiswa Indonesia, namun juga mahasiswa asing lainnya seperti Kolombia, India dan Pakistan. Ia juga menawarkan jasa perbaikan gratis bagi para pelanggan. Di Belanda, semua hal harus dikerjakan sendiri atau swalayan (melayani diri sendiri), termasuk memperbaiki sepeda. Jika di Indonesia kita bisa saja menemukan tukang tambal ban dengan harga murah, disini semua harus dikerjakan sendiri. Selain karena biaya perbaikan sangat mahal, montir sepeda pun sulit ditemui.

Kemajuan teknologi dan kecepatan internet di Belanda sangat mendukung kegiatan bisnis ini. Selain menjajakan dagangan lewat jaringan pertemanan seperti whatsApp, Amin pun menjual dagangan nya lewat sosial media. Di Belanda, Facebook, bukan hanya digunakan sebagai tempat berkeluh kesah, menulis curhatan maupun update foto dan tulisan. Di negeri kincir angin ini, Facebook digunakan sebagai media jual beli yang paling diminati, mulai dari tiket kereta hingga barang-barang bekas. Itu semua dijual dengan harga sangat miring. Bahkan, jika beruntung bisa juga mendapatkannya secara cuma-cuma. Sebut saja, ISS marktplatz yang setiap awal perkuliahan dan penghujung masa studi selalu saja ramai dengan transaksi jual-beli.

Selain menggunakan media sosial tersebut, jual beli barang bekas bisa diakses melalui situs marktplaats.nl. Situs ini mirip dengan OLX di Indonesia, cuma bedanya, barang yang dijual lebih bervariatif. Mulai dari pakaian, hingga mobil bekas dijual di situs ini dengan harga yang bisa dinego.  Situs ini sangat membantu jika ingin memulai bisnis di Belanda. Memang, dibutuhkan kejelian untuk membuka situs jual beli ini, agar mendapatkan barang-barang berkualitas dengan harga miring.

Untuk memulai usaha di Belanda terbilang gampang-gampang susah, namun keuntungan yang diperoleh sangat menjanjikan. Amin mengaku, saat awal-awal memulai usaha, ia bisa menjual lima sepeda dalam sehari. Dengan margin harga jual dan beli sebesar 20 euro, maka dalam sehari ia memperoleh keuntungan bersih sebesar 100 euro.  Usaha sepeda ini tidak membutuhkan modal besar, lantaran sepeda yang dibeli bisa langsung dijual. Amin memulai usaha nya dengan modal 60 euro.

Saat ini, Amin juga mulai mengembangkan bisnis di bidang kuliner. Pria berdarah Palembang ini ternyata jago masak pempek. Keahlian ini pun tidak sia-sia. Pengumuman jual beli di jejaring pertemanan WhatsApp antar sesama mahasiswa indonesia selalu penuh daftar pembeli. Untuk mencicipi pempek buatan Amin, harga yang ditawarkan relatif murah, yakni seharga 0.5 euro per biji.

Harus diakui, pempek buatan Amin nomor satu di Belanda  (Klaim penulis :)). Bumbu cuka hitam manis terasa persis buatan asli Kota Palembang, bahkan ada yang mengaku lebih enak. Menurutnya, segala jenis bumbu dan bahan-bahan seperti cuka dan gula jawa bisa ditemukan di Asian market. Sementara, untuk jenis ikan, ia menggunakan ikan tenggiri atau king fish yang bisa ditemui di Haagse Markt maupun di Asian Market.

“Untuk memulai bisnis kita harus jeli melihat demand, kemudian melakukan survey harga dan kisaran buying price dari customer. Terakhir, kita harus melihat jenis barang yang sesuai dengan budget customer. Sehingga pelanggan untung, kita pun untung” pesan Amin.

Penulis: Ardhy Dinata Sitepu-Mahasiswa Jurusan Economic Development ISS

Laporan International Day 2016: Penampilan Indonesia Memukau Pengujung

Den haag-Sepasang muda-mudi berpakaian adat jawa menyambut pengunjung yang hadir di International Day 2016. Balutan kebaya orange dan pakaian tradisional Jawa bermotif klasik tampak serasi dikenakan. Dengan ramah mereka mengobrol dengan pengunjung sambil menunjukkan alat musik angklung kepada mahasiswa asal India dan Pakistan.  Alat musik bambu asal Jawa Barat itu pun dengan cepat menjadi perhatian pengunjung. Mereka yang mengunjungi stand Indonesia, mencoba memainkan alat musik itu dengan tanpa irama teratur.

Alunan musik angklung itu sahut menyahut dengan berbagai alat musik tradisional dari berbagai penjuru dunia yang dipamerkan di International Day 2016. Hari itu, koridor lantai satu ISS disulap menjadi area pameran budaya. Sejumlah stand berdiri memamerkan budaya tradisional dan destinasi wisata sejumlah negara. Setidaknya, ada ada 13 negara yang ikut serta di International Day 2016, yakni   Argentina, China, Colombia, Ecuador, Indonesia, Japan, Malawi, Mexico, Pakistan, Palestine, Philippines, Rwanda and Uganda.

Kegiatan International Day sudah menjadi rutinitas tahunan mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kota Den Haag. Program kerja PPI secara khusus menyiapkan International Day sejak bulan pertama masa kepengurusan. Seluruh mahasiswa Indonesia yang berjumlah 32 orang, ikut andil dalam kegiatan ini.  Menurut pengakuan mahasiswa Indonesia periode 2015-2016, setiap tahun, selalu ada kejutan yang ditampilkan perwakilan Indonesia, mulai tarian hingga makanan. Pujian selalu mengalir dan tidak heran jika penampilan Indonesia dalam pergelaran tahun ini kembali memukau pengunjung.

Kegiatan utama berada di aula tengah gedung ISS. Sejumlah meja disusun rapi sepanjang aula membentuk persegi. Satu-satu persatu meja mulai dipenuhi dengan makanan yang tampak lezat. Stand Indonesia berada tepat di pintu masuk aula. Dua buah meja terlihat tidak muat menampung seluruh makanan. Beberapa sajian khas Indonesia seperti nasi kuning, urap, ayam goreng, kue nagasari dan klepon dipamerkan dalam pergelaran tersebut. Rasa kangen makanan Indonesia terbayar hari itu. Antrian mengular hingga keluar arena pameran. Bukan hanya mahasiswa dari negara lain yang berebut mendapatkan makanan indonesia, tetapi sejumlah mahasiswa Indonesia yang kangen berat dengan masakan Indonesia tidak sabar menunggu giliran.

Menurut Walfare Officer ISS Marti Blok, penampilan Indonesia memang yang paling ditunggu-tunggu. Setiap tahun, mahasiswa Indonesia menyajikan makanan yang enak dan disukai pengunjung. “tahun ini pun, saya kira makanan Indonesia yang paling enak” ungkap martin sambil berbisik.

Antrian juga tampak di stand negara Brazil dan Jepang,. Cita rasa makanan antar benua yang begitu unik. Dari brazil misalnya, mereka menyajikan coklat legit Brigadeiro yang terasa lembut di mulut. Brigadeiro merupakan coklat yang memiliki bentuk mirip truffle. Desert manis asal negeri samba tersebut biasa dijadikan cemilan anak-anak saat pesta ulang tahun. Sementara, Jepang menyuguhkan sushi, yang disajikan dalam dua kriteria yakni vegetarian dan non-vegetarian. Makanan yang begitu identik dengan negara Jepang itu langsung habis dalam sekejab.

Sesi puncak dilaksanakan ketika hari semakin larut. Lantunan lagu Indonesia Pusaka menggema saat pembukaan, kemudian disusul dengan penampilan lima tarian nusantara  yang diiringi musik tradisional dari lima daerah di Indonesia, yakni Alusiau dari Sumatera Utara, Lenggang Nyai dari Betawi, Manuk Dadali dari Jawa Barat, Margapati dari Bali dan Yamko Rambe Yamko dari Papua. Penampilan yang berdurasi selama 13 menit tersebut telah menghipnotis pengunjung. Tepuk tangan meriah tedengar setiap pergantian penari. Sejumlah pengunjung mengaku kagum dengan penampilan Indonesia. Menurut mereka, tarian Indonesia lebih terorganisir dan rapi.

Khusus untuk menyiapkan pergelaran tarian nusantara ini, sejumlah mahasiswa ISS rutin melakukan latihan di sela-sela perkuliahan. Mereka menggunakan ruang attic setiap akhir pekan tiba. (Ard)

Indonesian New Batch ISS

Oleh Tim Publikasi

Selamat datang mahasiswa baru angkatan 2016/2017!

Silahkan bagi teman- teman yang sudah terdaftar sebagai mahasiswa ISS mengirimkan data diri sebagai berikut

  • Nama lengkap
  • Jurusan atau Program
  • Nomor Whatsapp
  • Akun Facebook
  • Kontak orang terdekat
  • Daerah asal

Mohon detail yang sudah disebutkan di atas dikirim via email ke ppikotadenhaag@gmail.com

Sampai bertemu di Den Haag!

Gosip Pembangunan:Makna dan Peran Mahasiswa

PPI Kota Den Haag mengadakan Diskusi Santai terkait Makna dan Peran Mahasiswa

Oleh Dyah Ayu Kartika

“Sikap setengah hati tidak akan menghasilkan apa-apa. Setengah baik berarti tidak baik, setengah benar berarti tidak benar” – Multatuli.

AgS8uuscIIOUQKK40MSINK0mgGCVL87SNDj-QdbZUUKW

Hari jumat, 29 April 2016, PPI Kota Den Haag mengadakan diskusi bertajuk: ‘Mempertanyakan Makna dan Peran Mahasiswa: Menilik Sejarah Pergerakan Mahasiswa’ dengan pembicara Bonnie Triyana, Sejarawan juga Pemimpin Redaksi Majalah Historia serta Ubaidilah Muchtar yang akrab disapa Mas Ubay, pendiri komunitas baca Multatuli di Lebak, Banten. Kedatangan kedua pembicara ke Belanda ini dilatarbelakangi oleh inisiasi pendirian museum Multatuli di Lebak, Banten. Museum ini akan menjadi museum pertama yang membahas tentang kolonialisme di dunia.

Acara dibuka oleh moderator, Afif Muhammad, yang menjabarkan berbagai tuntutan peran mahasiswa yang sering didengungkan terutama di masa orientasi universitas negeri; social control, agent of change, dan iron stock. Namun belakangan, perhatian mahasiswa dalam isu-isu sosial nampak menurun, bahkan untuk menyampaikan aspirasinya sebagai mahasiswa pun perlu usaha yang ekstra. Hal in itercermin dalam kedatangan Presiden Indonesia, Joko Widodo kemarin. Momen strategis dan bersejarah itu kita lewatkan begitu saja, cukup memuaskan napsu selfie dan wefie, tanpa adanya dialog maupun penyampaian aspirasi dari mahasiswa. Berangkat dari keresahan ini, PPI Kota Den Haag mencoba mempertanyakan kembali apa makna dan peran mahasiswa. Haruskah kita terus kritis terhadap realitas sosial baik yang di Indonesia maupun yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? Atau sebaiknya kita memposisikan diri di luar carut-marut sosial-politik dan fokus belajar sebelum akhirnya terjun ke masyarakat?

Ag-WDWMDGVivAlswUGH0y544sz_2klSWYmw8qR16up3V (1)

Menurut Mas Bonnie, mahasiswa memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa dan di zaman ini, ruang-ruang tersebut terbuka semakin besar. Zaman pergerakan mahasiswa tahun 98 memiliki satu musuh yang sama, yaitu pemerintahan Suharto. Namun setelah Suharto turun, personifikasi musuh seakan runtuh padahal praktik-praktik orde baru masih sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bukti konkret adalah di simposium nasional 65 kemarin yang masih dikawal ketat oleh polisi. Kuatnya praktik orde baru ini juga berdampak pada mudahnya masyarakat kita dipicu oleh isu rasisme dan agama. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak dibiasakan untuk berpikir kritis dan telah dimanipulasi sedemikian rupa sejak masa orde baru. Sistem demokrasi Indonesia yang berupa demokrasi elektoral seringkali menghasilkan pemerintah yang korup dan masyarakat yang apatis karena tidak percaya lagi dengan pemerintah. Ironisnya, kebanyakan masyarakat apatis ini adalah kelas menengah yang terdidik, berada, dan bisa membuat perubahan-perubahan di masyarakat.

Tantangan-tantangan ini yang menjadi ‘musuh’ mahasiswa di kini. Mahasiswa bisa menghadapinya dimana saja, baik dalam sistem maupun luar sistem. Meskipun demikian, kita juga perlu mengkritisi gerakan mahasiswa juga yang sering disebut organisasi moral padahal sudah diinfiltrasi oleh partai politik yang memiliki kepentingan tertentu. Sosial media dapat menjadi salah satu medium untuk menyampaikan ide dan melawan ‘musuh’nya. Menjadikan sosial media sebagai medium bukan berarti cukup untuk melakukan perjuangan, kita juga perlu melakukan aksi-aksi konkret di lapangan. Tidak usah muluk-muluk seperti melakukan aksi turun ke jalan, kontribusi kecil yang berkelanjutan juga dapat menjadi bagian dari perjuangan seperti yang dilakukan oleh Kang Ubay.

Kang Ubay sudah 7 tahun menjalani komunitas baca Multatuli. Ia adalah guru SMP di desa Ciseel, Lebak, Banten. Sebelum bertugas di sana, ia berkuliah di IKIP Bandung dan bergabung dengan organisasi mahasiswa FMN Bandung. Saat ini, ia sedang melanjutkan studi S-2 di UPI. Kang Ubay mengakui bahwa pergerakan mahasiswa saat ini berbeda dengan yang dulu. Dahulu, ia dididik untuk terjun langsung ke masyarakat dan hidup di tengah mereka. Hal ini dilakukan agar mahasiswa tau bagaimana kondisi kehidupan masyarakat terutama kelas bawah dan tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Seiring berjalannya waktu, banyak teman-temannya yang mulai memutuskan untuk berprofesi sebagai pegawai swasta maupun pegawai negeri. Tapi tidak jarang dari mereka yang memilih untuk tinggal di masyarakat,  membentuk inovasi-inovasi untuk membangun pola pikir dan karakter masyarakat sejak dini, seperti membentuk kelompok baca novel yang sarat nilai-nilai kemanusiaan.

Max Havelaar karya Multatuli menjadi buku yang dipilih oleh Kang Ubay untuk diperkenalkan ke anak-anak mulai dari balita hingga remaja. Buku ini seringkali dijadikan referensi oleh pemimpin dan pemikir dunia ketika membicarakan kemanusiaan. “Pramoedya Ananta Toer pernah bilang: Max Havelaar adalah buku pertama yang membunuh kolonialisme” katanya. Melalui buku ini, anak-anak diajarkan untuk tidak jahat dengan orang lain dan tidak mengambil apa yang bukan hak mereka. Berbagai metode digunakan, dimulai dari membaca Max Havelaar bersama-sama, bermain peran, menonton bersama, menelusuri berbagai tempat di Lebak, daerah pemerintahan Multatuli dulu. Hingga saat ini, anak-anak di desa Ciseel telah menamatkan Max Havelaar selama tiga kali, masing-masing dalam kurun waktu 11 bulan, 2 tahun lebih, dan 3 tahun.

Perlu diingat, bahwa proses ini perlu konsistensi dan berkelanjutan. Perubahan tidak akan terjadi dalam kurun waktu satu tahun saja apalagi satu bulan. Sayangnya, sedikit orang yang mau menetap dan mengembangkan masyarakat di desa terpencil untuk menjalani proses yang tidak sebentar ini. Hal ini juga menjadi tantangan dan refleksi bagi kita sebagai mahasiswa juga sebagai bagian dari masyarakat, bagaimana kita bisa melakukan kontribusi dan perubahan dengan konsisten bagi masyarakat terutama di lingkungan sekitar kita.

 

 

Pilihan Mata Kuliah di ISS-EUR

Oleh Idden Valiant

Hi Teman-teman!

Sebelumnya saya ucapkan selamat karena sudah memilih ISS-EUR. Teman-teman akan menghabiskan waktu kurang lebih 15.5 bulan disini, dan itu bukan waktu yang pendek. Dijamin, kalian pasti akan belajar banyak. Orang-orang bilang pendidikan adalah investasi, dan tentunya pasti kalian mau return on investment setinggi-tingginya kan. Nah, di artikel pendek ini saya akan menjelaskan sedikit tentang subject yang harus/akan teman-teman pilih.

Teman-teman akan menerima “buku putih” saat pertama kali teman-teman diterima di ISS-EUR. Nah buku putih tersebut mengandung informasi penting mengenai dunia akademis yang akan terjadi selama kalian disini. Buku putih tersebut harus dibaca dengan baik, dan berkali-kali. Kalau bingung, jangan ragu datangi convenor / TLST. Secara garis besar, buku putih tersebut akan menjelaskan tentang struktur perkuliahan disini. Jumlah minimum ECTS (Sistem Kredit Eropa) yang harus diambil untuk lulus disini adalah 88 ECTS. Jumlah tersebut termasuk banyak untuk waktu 15.5 bulan, karena universitas lain itu standarnya adalah 60 ECTS/tahun. Artinya apa? Kita tidak ada liburan, sebuah term selesai, langsung lanjut term berikutnya. Ini akan menantang bagi teman-teman yang ingin ada internships, apakah tidak mungkin? Bisa kita lihat di tulisan dibawah.

Buku putih saat saya menulis artikel ini terdiri dar 5 bagian. Dimulai dengan struktur perkuliahan disini. Waktu perkuliahan dibagi menjadi 5 Term, Term 1A, Term 1B, Term 2, Term 3, dan Research Paper. Idealnya setiap term itu aka nada sekitar 2-3 mata kuliah. Struktur perkuliahan tersebut dimulai dengan foundation courses sebanyak 3 mata kuliah, dan masing-masing terdiri dari 3 ECTS (jadi ingat +/- 10% dari nasib total GPA kalian ditentukan disini). Foundation courses terdiri dari Economics, Sociology, dan Political Sciences. Dari ketiga mata kuliah tersebut, akan dibagi lagi menjadi 2 level, level intermediate dan advanced. Setiap murid akan diwajibkan memilih setidaknya 1 buah mata kuliah di level advanced. Jadi paling tidak 2 intermediate, 1 advanced, atau bisa juga semuanya (3 courses) ambil advanced semua. Harus diingat, level intermediate dan advanced dsini tidak menunjukkan superioritas kalian. Balik lagi ke diri kalian, lihat diri kalian, kalian tujuan kemari apa? Dan batas kemampuan kalian sampai dimana? Jangan takut juga salah pilih, karena kalian diberikan waktu 1 minggu untuk pindah level. Kelas favorit dengan tingkat kepuasan paling tinggi adalah kelas Intermediate Economics dengan DR. Howard Nicholas.

Nah, berbarengan dengan foundation course juga ada general course (8 ECTS – 9.1% nasib). Ini adalah course paling panjang, karena ada di term 1A dan 1B. Yang ini wajib tidak bisa memilih. Usahakan terus hadir, dan jangan berpikir terlalu ribet di course ini. Karena, ternyata essay yang diharapkan di course ini bukan essay yang terlalu akademis yang penuh dengan perdebatan-perdebatan teori. Hadir juga di kelas Academic Writing yang menjadi satu dengan kelas ini.

Tidak terasa baru masuk kuliah 1.5 bulan terus sudah akan merasakan final exam pertama J belajar kelompok sangat penting untuk meningkatkan nilai temen-temen. Tapi bagi yang terbiasa belajar sendiri pun tidak masalah. Hanya saja, untuk foundation course ini adalah benchmark untuk nilai teman-teman ke depannya. Bicara masalah nilai, jangan merasa depresi disini karena tidak mendapatkan nilai yang tinggi. Standart rata-rata (average) disini adalah 72. Jadi kalau temen-temen dapet 72, berarti temen-temen sudah dianggap sesuai standard ISS-EUR. Mendapatkan nilai merit harus minimal 85, dan distinction adalah 90. Semua pernilaian disini akan memakai bell curve, yang artinya nilai kalian akan diadu dengan nilai teman kalian sekelas. Rata-rata sekelas harus 72, dan seimbang.

Term 1B dimulai dengan core course sebanyak 12 ECTS (13.63% nasib). Disini kalian akan dibagi ke kelas-kelas yang lebih kecil sesuai dengan penjurusan yang kalian pilih sewaktu kalian masuk ISS-EUR. Dan term 1B untuk anak ECD akan diwajibkan untuk mengambil research methodology class 3103 – Data and Regression analysis. Gunanya 3103 ini adalah untuk membiasakan teman-teman membaca tabel econometrics, dan bagaimana cara membuatnya. Buat jurusan yang lain juga boleh ikut kelas ini, tetapi lebih banyak yang tidak memilih dan melakukan kelas research methodology di term berikutnya.

Term-term selanjutanya di term 2 dan 3 akan dipilih dengan mata kuliah pilihan kalian sendiri. Intinya harus ada 3 mata kuliah yang berisi 8 ECTS (Total 24 ECTS), dan 1 atau 2 mata kuliah research methodology (Total 8 ECTS). Teman-teman harus baca dengan detail buku putih bila teman-teman menginginkan untuk mendapatkan specialization. Dengan mata kuliah pilihan, teman-teman bisa mendapatkan diploma / ijazah dengan spesialisasi. Saya sarankan hati-hati dalam membagi waktu kuliah kalian dalam term 2 dan 3. Bila kalian lihat dengan seksama, term 2 itu sangat pendek, jadi waktu belajar juga lebih pendek. Dalam 3 buah mata kuliah pilihan, kalian akan melihat beberapa mata kuliah akan bentrok dengan mata kuliah yang lainnya, jadi bijak-bijaklah menentukan pilihanmu. Dan yang paling penting adalah setiap kelas mata kuliah akan berjalan bila ada minimal 10 murid didalamnya. Jadi jauh-jauh hari teman-teman sudah buat persetujuan dengan teman-teman yang lain untuk ikut kelas yang sama. Saya patah hati karena ada beberapa kelas yang saya inginkan dibatalkan karena jumlah murid yang ingin ikut kelas tersebut kurang dari 10 orang.

Terakhir dari saya, kalau temen temen bingung memilih, step back for a while,  dan lihat lagi tujuan kalian kenapa sampai kuliah disini. Mimpi besar kalian apa, dan apa yang mau dipelajari. Ikuti kata hati, dan jangan lupa untuk diskusi dengan senior-senior kalian yang sudah mengambil kelasnya. Karena, seringkali senior akan memberikan pesan yang sangat berguna.

 

Semoga Berguna dan jangan patah semangat!

 

Sekilas Tentang Perkuliahan di ISS

Oleh Tessa Talitha

Setiap mahasiswa di ISS akan mendapatkan kalender akademik dari awal hingga akhir perkuliahan yang memuat hal-hal penting seperti waktu registrasi mata kuliah, periode kuliah, masa ujian, deadline pengumpulan tugas, tanggal nilai keluar, dan sebagainya. Tanggal wisuda pun bahkan sudah ditetapkan dari awal loh J. Banyak manfaat yang bisa diambil dari hal ini, terutama bagi kalian yang ingin merencanakan liburan selama berkuliah. Jadwal yang terpampang itu sudah pasti akan sesuai, jadi tidak perlu khawatir tiba-tiba deadline maju atau mundur dari tanggal yang tertulis. Walaupun demikian, ada beberapa kekurangannya seperti tidak terbayangnya sepadat apa kondisi perkuliahan atau seberapa banyak waktu yang digunakan persiapan exam dan pengerjaan tugas. Saya akan membahas hal yang tidak tertulis tersebut dari kaca mata saya sebagai mahasiswa sehingga kalian bisa terbayang bagaimana rasanya berkuliah di ISS.

Studi Master di ISS memiliki masa perkuliahan selama 16 bulan lamanya dengan total 88 EC (mungkin bisa dianggap seperti SKS) yang harus ditempuh. Pembagian EC tersebut terdiri dari: Foundation Courses (3+3+3 atau 9 EC), General Course (8 EC), Core Course (12 EC), Research Technique Courses (4+4 atau 8 EC), Major Optional Course (8+8+8 EC), Research Paper Preparation (4 EC), dan Research Paper (23 EC).

Sistem belajar di ISS menggunakan sistem Term, bukan semester seperti di Indonesia. Term di sini tidak memiliki waktu yang saklek namun kira-kira sekitar 3-4 bulan per Term. Ada 4 Term yang harus dijalani di ISS. Term 1 dibagi menjadi Term 1A dan 1B. Term 1A merupakan masa belajar Foundation Courses (dasar-dasar yang dibutuhkan mahasiswa ISS yang terbagi menjadi ekonomi, sosiologi, dan politik). Sedangkan Term 1B merupakan masa belajar core course (mata kuliah dasar sesuai dengan major masing-masing). Namun selama Term 1 kita juga belajar General Course (mata kuliah umum development studies). Selain mata kuliah wajib tersebut, kita juga harus mengikuti mata kuliah penunjang seperti: Academic Skill, Writing Skill, dan Workshop. Bisa dibilang Term 1 itu padat dengan jadwal perkuliahan karena setiap hari minimal ada dua mata kuliah dan maksimal bisa 4-5 mata kuliah. Lalu yang terpenting selama berkuliah di ISS akan banyak waktu yang dipergunakan untuk membaca, karena setiap mata kuliah memiliki required readings (biasanya 2 atau 3 per mata kuliah).

Karena pada Term 1A kesibukan kita lebih banyak untuk menghadiri kuliah dan membaca maka waktu liburan yang bisa dipergunakan pada Term ini hanyalah ketika weekend. Dan sayangnya di ISS tidak ada waktu khusus liburan sebelum pergantian Term selayaknya di Indonesia ketika pergantian semester. Kita hanya memiliki waktu setelah selesai ujian hingga weekend (biasanya kamis-minggu) untuk libur karena hari senin sudah mulai perkuliahan Term berikutnya. Pada Term 1B bisa dibilang kepadatan perkuliahannya berkurang, namun tugas jadi bertambah. Baik General Course dan Core Course pada umunya memiliki tugas essay dan juga ujian tertulis. Dan yang perlu diperhatikan adalah masa ujian dan deadline pengumpulan tugas Term 1B jatuh pada awal januari, sehingga liburan masa natal dan tahun baru tidak akan tenang karena dilalui dengan persiapan ujian dan pengerjaan essay. Walaupun begitu biasanya banyak yang tetap menyempatkan waktu untuk berlibur karena perkuliahan telah berakhir pada minggu ketiga desember. Yang terpenting adalah perhatikan manajemen waktu, sehingga ketika selesainya liburan tidak kewalahan dengan persiapan ujian dan tugas.

Kemudian perkuliahan dimulai kembali hari senin setelah masa ujian Term 1B. Term 2 dan Term 3 pada umumnya sama jenisnya, yaitu meliputi Research Technique Courses dan Major Optional Courses. Selain itu pada Term 2 juga masih terdapat kuliah pendukung seperti Academic Skill, Writing Skill, dan Research Paper Preparation. Pada umunya perkuliahan pada masa ini jauh berkurang dibanding Term 1A, namun tugas yang didapatkan jauh lebih banyak. Jadwal yang dimiliki tiap mahasiswa pun berbeda-beda tergantung mata kuliah yang dipilihnya. Bisa jadi si A akan lebih sibuk di Term 2 karena mata kuliah yang diambil lebih banyak di Term 2 dibanding Term 3, sedangkan si B sebaliknya akan lebih sibuk di Term 3. Kepadatan tugas pun juga akan berbeda tergantung mata kuliah yang diambil, misalnya mata kuliah X akan ada 2 tugas individu dan 1 tugas kelompok sedangkan mata kuliah Y akan ada 3 tugas individu dengan bobot penilaiannya masing-masing. Term 2 berakhir pada akhir maret, sedangkat Term 3 berakhir pada akhir Juni. Setelah itu perkuliahan berakhir dan dimulailah perjuangan mengerjakan Research Paper (RP). Waktu pengerjaan RP dialokasikan oleh ISS selama 4 bulan pada Term 4 (sekitar bulan Juli – November).

Selain mata kuliah yang telah disebutkan, ISS juga memiliki timeline tugas tersendiri mengenai Research Paper (RP). Pengerjaan RP akan terbagi menjadi tiga bagian (proposal RP, RP design seminar, dan full draft RP seminar). Proposal RP memuat latar belakang hingga rumusan pertanyaan penelitian bertujuan untuk mengalokasikan supervisor untuk setiap mahasiswa (tergantung kebijakan pada setiap major). RP design seminar merupakan presentasi rencana metodologi dan pengumpulan data untuk dinilai apakah layak untuk dilanjutkan atau tidak. RP design seminar diadakan pada bulan mei. Full draft RP seminar yaitu presentasi seluruh hasil penelitian yang dilakukan. RP seminar dilakukan pada bulan september dan setelah itu terdapat waktu 1 bulan untuk revisi hasil seminar sebelum RP versi final dikumpulkan. Ketika RP telah selesai, mahasiswa tidak akan ada kegiatan selain menunggu hasil dan menghadiri wisuda pada bulan desember. Biasanya waktu ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk liburan sebelum pulang ke negara masing-masing.

Secara umum dapat disimpulkan perkuliahan di ISS terbilang padat dan cukup menguras pikiran dan tenaga. Selain itu memang yang ditekankan oleh ISS yaitu kemampuan memahami teori dan praktik pembangunan serta kemampuan melakukan riset. Tekanan yang dialami oleh mahasiswa ISS cukup tinggi karena sistem penilaian yang ketat dan standar yang tinggi dari setiap dosen. Sebagai tambahan terkait sistem penilaian, untuk re-exam di ISS hanya bisa dilakukan ketika tidak memenuhi standar kelulusan (dibawah 60) dan ketika re-exam nilai maksimum yang bisa didapat yaitu 60 karena tujuannya untuk mencapai standar saja bukan untuk cuci nilai. Hal ini penting karena berbeda dengan universitas-universitas lain di Belanda yang menawarkan kesempatan untuk memperbaiki nilai pada re-exam. Jadi jika mengincar nilai bagus di ISS harus dilakukan dengan serius karena hanya memiliki satu kali kesempatan.

Funding in ISS

Oleh Dyah Ayu Kartika

Sebagian besar mahasiswa ISS mendapat beasiswa penuh untuk hidup di Belanda, tapi ada juga yang mendapat beasiswa parsial dan biaya sendiri atau self-funded. untuk teman-teman program master dari PPI kota Den Haag angkatan 2015-2016, semuanya disponsori beasiswa, antara lain Stuned, NFP, LPDP, Spirit, dan beasiswa unggulan DIKNAS. Di rubrik ini, kami akan menjelaskan pengalaman beasiswa yang mungkin bisa dipertimbangkan sebelum menjadi mahasiswa ISS.

  1. StuNed (Studeren in Nederland)

Stuned berada di posisi pertama di tulisan ini bukan karena bias penulis yang mendapatkan sponsor dari Stuned ya, hehe. Melainkan karena sebagian besar (6 orang) anggota PPI KDH tahun ini mendapat dana dari StuNed.

Stuned merupakan beasiswa hasil kerjasama bilateral antara pemerintah Indonesia dan Belanda sejak tahun 2000. Berdasarkan perjanjian tersebut, terdapat beberapa bidang-bidang prioritas (dapat dilihat diweb Stuned). Namun, bukan berarti mustahil untuk mendapatkan beasiswa ini jika jurusan kalian tidak termasuk dalam bidang prioritas. Sebagian besar jurusan-jurusan di ISS dapat dikategorikan dalam bidang prioritas ini.

Stuned tidak hanya mensponsori program master, tetapi juga short-course (individu) dan tailor-made training (grup). Untuk beasiswa master,  beasiswa ini meliputi biaya visa untuk ke Belanda, tiket perjalanan Jakarta-Belanda-Jakarta (dan biaya daerah asal ke Jakarta bagi yang berasal dari luar Jakarta), tuition fee, settlement allowance sebesar €275, biaya untuk materi perkuliahan sebesar €310, biaya hidup selama di Belanda sebesar €970 per bulan, asuransi, dan biaya penelitian hingga €850. Proses pembuatan visa dan pembelian tiket pesawat akan dibantu oleh pihak Stuned, Anda hanya datang dan mengikuti proses yang berlangsung. Hal ini juga berarti Anda tidak bisa memilih maskapai penerbangan karena Stuned sudah bekerjasama dengan airlines tertentu.

 Meskipun dalam website pihak Stuned mengatakan salah satu persyaratan adalah pernah bekerja selama 2 tahun, sejak tahun 2014, Stuned membuka kesempatan bagi fresh-graduate untuk mendaftarkan diri. Tahun 2015, terdapat ± 15 fresh-graduates yang mendapat beasiswa, dua diantaranya mahasiswa ISS. Persyaratan dan informasi yang lebih lengkap bisa dilihat dalam tautan berikut ini: http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/stuned?_cldee=ZHlhaGthdGh5QGdtYWlsLmNvbQ%3d%3d&urlid=0

Proses seleksi Stuned tergolong sederhana, cukup melengkapi dokumen yang diminta oleh pihak Stuned (tanpa wawancara). Sekitar 1-2 bulan sejak tenggat waktu pendaftaran, Anda akan mendapatkan pemberitahuan bahwa Anda (1) diterima, (2) menjadi cadangan, atau (3) ditolak. Setelah mengonfirmasi bahwa Anda menerima beasiswa ini, langkah selanjutnya adalah tandatangan kontrak. Perhatikan dengan seksama terkait kontrak ini karena  akan menjadi pegangan selama hidup di Belanda.

Terdapat tiga kegiatan yang wajib dihadiri jika menjadi Stuned Awardee, yaitu welcoming session, program akulturasi, dan pre-departure briefing. Welcoming session merupakan acara untuk memperkenalkan Stuned Awardee secara lebih dekat dengan Stuned dan orang-orang di belakang layarnya. Acara ini juga menjadi ajang pertemuan denga awardees lain. Program akulturasi merupakan program yang disusun untuk memberi pengetahuan terkait budaya dan bahasa Belanda selama satu minggu penuh dengan tujuan untuk meminimalisasi culture shock ketika awardee sampai di Belanda. Sementara itu, pre-departure briefing merupakan acara yang dibuat sebelum keberangkatan dimana kita dapat berkonsultasi dengan alumni universitas tujuan terkait kehidupan di universitas tersebut. Acara ini terbuka untuk semua calon mahasiswa yang akan berangkat ke Belanda, tidak eksklusif untuk Stuned saja.

Selama di Belanda, Anda akan mendapatkan uang untuk biaya hidup yang ditransfer oleh Erasmus (biasanya setiap tanggal 28) setiap bulannya. Mahasiswa yang disponsori Nuffic diwajibkan untuk tinggal di housing ISS selama program master berlangsung (16 bulan). Bagi yang tinggal di housing yang dimiliki ISS, uang yang ditransfer setiap bulan sudah dipotong untuk uang akomodasi. Tapi, sejak 2016, beberapa housing ISS dipindahtangankan ke pihak DUWO yang berarti setiap bulannya kita harus mentransfer uang sewa ke DUWO. Lebih lengkap terkait housing bisa dlihat di sini: http://www.iss.nl/prospective_students/accommodation_and_student_life/.  Pihak ISS juga akan otomatis memotong €100 dari uang materi perkuliahan untuk biaya fotokopi-print-scan yang tersimpan dalam student card kita sebesar €10 dan materi perkuliahan lainnya (buku dan jurnal yang tersedia online).

 

  1. NFP (Netherland Fellowship Program)

Beasiswa ini merupakan salah satu dari beasiswa yang disediakan pemerintah Belanda bagi pelajar-pelajar dari seluruh dunia. Terdapat lebih dari 50 negara yang menjadi sasaran dari beasiswa ini, termasuk Indonesia. Beasiswa ini juga memberi kesempatan yang besar bagi kandidat perempuan dan warga negara sub-sahara Afrika. Salah satu hal yang membedakan NFP dengan Stuned adalah sasaran beasiswa. NFP menyasar kepada para profesional baik dari pemerintah maupun non-pemerintah yang dibuktikan dengan adanya employer statement dalam syarat dokumen yang diberikan ke pihak nuffic. Employer statement ini juga menunjukkan bahwa kandidat akan tetap menerima honor selama masa studinya di Belanda.

Beasiswa NFP tidak hanya mencakup beasiswa untuk program master, tetapi juga short course, tailor made training, dan PhD. Beasiswa ini mencakup biaya visa dan tiket perjalanan Jakarta-Belanda-Jakarta, settlement allowance sebesar €275, tuition fee, biaya untuk materi perkuliahan sebesar €310, biaya hidup selama di Belanda sebesar €970 per bulan, dan asuransi. Perlu dicatat bahwa sejak tahun 2016, NFP tidak lagi menyediakan anggaran untuk riset bagi mahasiswanya.  Informasi lebih lengkap terkait persyaratan NFP bisa didapatkan di tautan berikut: http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/netherlands-fellowship-programme-nfp.

Setelah mendapatkan Letter of acceptance, pihak ISS akan menginformasikan kepada Anda terkait kesempatan untuk disponsori oleh NFP serta detil terkait aplikasi beasiswa ini. Tahap berikutnya adalah melengkapi seluruh dokumen yang diminta dan mengirimnya ke pihak ISS. Anda akan diberi kabar oleh pihak ISS apakah Anda diterima atau tidak sebagai penerima beasiswa. Pastikan bahwa Anda diterima dengan meminta surat resmi yang mencantumkan nama Anda. Kemudian, Anda akan dikirimkan kontrak kosong antara Anda dengan pihak Nuffic. Jika setuju dan tidak ada hal yang perlu diperjelas lagi, Anda diharapkan menandatangani, men-scan, lalu mengirimkannya kembali ke pihak kampus. Selama proses administrasi, Anda hanya berhadapan dengan pihak admission office universitas.

Berbeda dengan Stuned yang diharapkan untuk hadir di berbagai kegiatan Neso, kandidat NFP tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan apapun. Kandidat tetap diinformasikan terkait  pre-departure briefing yang diselenggarakan Neso Indonesia meskipun tidak wajib untuk mengikuti acara tersebut. Selama di Belanda, penerima NFP diperlakukan sama dengan penerima Stuned; mendapat biaya hidup setiap bulan, tinggal di housing ISS selama 16 bulan, dan mendapat uang untuk materi studi sejumlah €200 (setelah dipotong €100 oleh pihak ISS).

 

  1. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)

Tentu beasiswa ini tidak lagi asing bagi pemburu beasiswa. Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang lebih dikenal dengan beasiswa LPDP sudah menelurkan ribuan mahasiswa master maupun doktor untuk bersekolah di dalam maupun luar negeri meskipun usianya masih terbilang ‘muda’. Tahun ini, terdapat dua mahasiswa ISS yang mendapat sponsor dari LPDP, salah satunya sudah berkeluarga dan membawa keluarganya ke Belanda. Kehidupan dan pengalaman awardees BPI ini akan saya jelaskan dalam sesi ini.

BPI merupakan beasiswa yang berasal dari pemerintah Indonesia. Seperti halnya Stuned, BPI juga memiliki bidang prioritas, tetapi tidak berarti jurusan di luar bidang prioritas tidak akan diterima oleh beasiswa ini. BPI memiliki daftar nama universitas yang termasuk dalam universitas tujuan, salah satunya Erasmus University Rotterdam dimana ISS menjadi bagian darinya. Untuk menjadi awardee, BPI tidak mengharuskan seseorang untuk memiliki pengalaman bekerja akan tetapi terdapat batas usia maksimal, baik untuk program master maupun doktor. Selengkapnya bisa diakses di tautan ini: http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor/

BPI melakukan proses seleksi yang cukup ketat mengingat cakupan beasiswa yang sangat luas. Calon awardee akan melewati tiga tahap seleksi sebelum berangkat ke negara tujuan. Tahap pertama adalah seleksi administrasi. Pada tahap ini, calon awardee diminta untuk menulis esai, mengisi formulir dari LPDP, dan menyertakan surat rekomendasi. Setelah itu, tahap kedua adalah wawancara, LGD, dan pembuatan esai di tempat. Tahap ketiga, adalah Persiapan Keberangkatan (PK) yang berisi serangkaian kegiatan untuk membangun nasionalisme dan memotivasi para awardee untuk kembali ke Indonesia selepas melesaikan studi di negara lain.

Dukungan dana yang diberikan BPI mencakup biaya visa, tiket perjalanan Jakarta-Belanda-Jakarta (dan biaya daerah asal ke Jakarta bagi yang berasal dari luar Jakarta), tuition fee, asuransi, settlement allowance sebelum keberangkatan sebesar €1200 yang dikonversikan ke rupiah dan dikirim ke rekening di Indonesia, settlement allowance setelah keberangkatan sebesar €1200, biaya hidup per bulan sebesar €1200 yang diberikan setiap triwulan, biaya materi perkuliahan sebesar 10 juta rupiah, serta biaya penelitian sebesar 25 juta rupiah untuk master dan 75 juta rupiah untuk doktor. Uang penelitian ini akan dikirim langsung ke rekening universitas atau dikirim ke rekening awardee dengan sistem reimburse. Bagi awardee yang membawa keluarga, BPI memberikan dana keluarga sebesar 25% dari biaya hidup bulanan sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ikut ke Belanda (maksimal 2 orang). Awardee dipersilakan untuk membawa anggota keluarga lebih dari dua orang tetapi tidak ditanggung oleh LPDP. Tunjangan keluarga ini juga baru dihitung sejak bulan ketujuh awardee menetap di Belanda. Diasumsikan pada bulan ketujuh, awardee sudah beradaptasi dengan baik sehingga bisa menerima kedatangan keluarga yang menetap di sana.  Tunjangan keluarga ini TIDAK termasuk tiket pesawat anggota keluarga Jakarta-Belanda-Jakarta dan asuransi anggota keluarga selama hidup di Belanda.

Bagi awardee LPDP yang mendaftar tanpa dilengkapi dengan Letter of acceptance dari universitas, pastikan LoA segera didapat karena kontrak dari LPDP baru diberikan setelah LoA didapat. Berdasarkan pengalaman mahasiswa ISS tahun ini, softcopy kontrak dan Letter of Sponsorship diberikan secara softcopy. Kontrak harus dicetak, rangkap dua, ditandatangan, diparaf setiap halaman, dan dikirimkan kembali ke pihak LPDP untuk ditandatangani oleh direktur LPDP. Kontrak yang sudah ditandatangani harus diambil di kantor LPDP. Sementara itu, Letter of Sponsorhip yang dikirimkan berupa form kosong yang harus diisi dan dikirimkan kembali dalam bentuk softcopy.

Sebelum berangkat, awardee bisa mengajukan tanggal keberangkatan untuk dicarikan tiket pesawat. Maskapai penerbangan yang dipilih oleh LPDP adalah Garuda Indonesia, meskipun ada kemungkinan juga menggunakan maskapai lain jika tidak ada opsi lain. Awardee juga dipersilakan untuk membeli tiket di luar mekanisme LPDP, misalnya menggunakan agen travel biasa. Salah satu mahasiswa ISS yang membawa keluarga memutuskan untuk tidak mengajukan tiket dari LPDP tetapi menggunakan agen travel biasa. Biaya yang dikeluarkan sebelumnya akan direimburse setelah awardee mendapatkan visa.

Biaya hidup akan dikirim ±10 hari setelah awardee mengajukan permohonan. Untuk itu, awardee diminta untuk mengisi form dan memberikan bukti bahwa awardee memang sedang berkuliah di universitas tersebut, biasanya dengan menyertakan screen capture nilai maupun mata kuliah yang sedang diambil. Saat ini, LPDP sudah menggunakan sistem simonev untuk mempermudah proses pencairan dana bagi penerima beasiswanya. Awardee hanya perlu mengunggah nilai sebelum tanggal 25 di bulan pengajuan dana di website simonev. Jika melewati deadline, awardee tetap bisa mengajukan pencairan dana menggunakan sistem form seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Karena tidak berasal dari program Nuffic, awardee LPDP memiliki kontrak untuk menetap di housing yang disediakan ISS selama 12 bulan, setelah itu awardee diperkenankan untuk memperpanjang kontrak jika jumlah kamar masih mencukupi atau pindah ke apartemen atau housing lain di luar yang diselenggarakan ISS. Awardee juga diharapkan untuk mentransferkan biaya sewa housing ISS ke rekening ISS, namun semenjak transisi kepemilikan housing antara ISS dengan DUWO, beberapa housing diserahkan ke pihak DUWO sehingga awardee juga membayarkan biaya sewa kamar ke pihak DUWO.

Sementara itu, awardee yang membawa keluarga tidak dapat menetap di dalam housing ISS sehingga harus menyewa apartemen di luar. Pengurusan izin penyewaan rumah dilakukan dengan pihak IND Den Haag. Terdapat beberapa ketentuan yang harus dipersiapkan, terutama saldo di rekening bank Anda. Pemerintah daerah Den Haag mensyaratkan penyewa rumah memiliki saldo rekening yang sama atau lebih dari pendapatan bulanan (1400€) dikalikan lama tinggal. Penerima beasiswa LPDP bisa melampirkan Letter of Sponsorship sebagai jaminan kepada IND bahwa awardee memiliki pendapatan yang cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarga. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tunjangan keluarga hanya didapat sejak bulan ketujuh hingga akhir masa studi. Untuk mengajukan klaim terkait tunjangan keluarga ini, Anda akan membutuhkan boarding pass keberangkatan anggota keluarga, visa, kartu identitas setempat, dan surat pernyataan dari pimpinan jurusan bahwa diperbolehkan membawa keluarga. Selama hidup di Belanda, setiap anggota keluarga harus memiliki asuransi. Jika Anda menyampaikan dari awal kalau akan membawa keluarga, proses pengajuan asuransi untuk mereka akan dibantu oleh admission office dan bisa di-reimburse secara berkala sebanyak 3 kali. Asuransi yang bekerjasama dengan ISS adalah AON dengan biaya 950€ per orang.